ternyata provokator dan zombie itu memang ada beneran, bukan fiksi atau kambing hitam para panglima politik di negeri elok nusantara yang konon gemah ripah loh jinawi... provokator dan zombie itu sungguh nyata adanya di sekitar kita, malahan kondisinya sudah sampai tahap 'ditunggangi' oleh rakyat indonesia.... provokator itu bernama sepeda motor dan zombie itu para pengendaranya
dari bacaan dan koran, ada banyak value negatif yang tersimpan di dada provokator... selain 'ngomporin,' provokator biasanya juga bertindak sebagai 'agent of change' (taelaaaa.... kayak penataran P4 aje...)... cuma saja, 'change' seperti apa yang mereka tularkan? betul.... provokator menularkan kebiasaan kotor, unethical, dan segudang kejelekan lain
sepeda motor ya adalah begitu itu. provokator. titik. persis. coba kita lihat, kebiasaan kotor apa yang telah sukses daripada ditularken daripada yang namanya sepeda daripada motor itu.... yuk kita mulai dari hal klise, emmmm.... melanggar (semua) aturan... halah, yang ini sudah jadi pengalaman intra personal banyak orang di indonesia raya
karena strukturnya yang kecil, sepeda motor seakan penuh dengan DNA 'bad boys,' yang punya hobby jebol sana jebol sini (semua) peraturan.... conto nih, jalur cepat hanya untuk kendaraan roda empat (katanya)? bah, kuno. basi. gak blue ocean banget.... (apa coba...?) sopir taxi yang saya ajak ngobrol (karena kena macet) juga mengeluh, 'pak, dulu tu motor paling was was sama mubil (mem-prononsiasikan-nya begitu) tapi sekarang tebalik pak, mubil yang was was sama motor,' nah tuh....
katanya kalo membelok kita musti liat2 spion (mengawasi apa yang melaju dari belakang) dan menyalakan lampu signal, retting, sen.... laaah, sepeda motor mah belok ya belok aja, boro-boro liat spion (spion apa? yang mana?) or nyalain lampu sen.... trus... apa bayarannya? yah cuma sekedar sepeda motor yang tiba-tiba nyangsang di pojok bemper aja kok.... heran, kenapa ya sepeda motor selalu bisa sim-sala-bim nongol di depan hidung (mobil) kita? or bagasi dekok dihantam sepeda motor nyelonong.. (hmmmm, baru tau saya, bemper ternyata punya fungsi 'hidden' jadi rem sepeda motor)
yang herannya lagi, kenapa juga ya para 'bikers' dan 'goncengers' itu selalu kelihatan buru-buru di jalanan? salip kiri, salip kanan, salip tengah, salip menyalip, nyundul mobil.... nyundul sesama sepeda motor, nyenggol kaca spion... pada mau kemana sih? emang ada pengumuman dari semacam Badan Pengamat Kiamat Nasional yang teriak 'ooooy, sebentar lagi tepat pada pukul sekian sekian lewat sekian, kiamat akan mulai....,' ada gitu? kalo emang kiamat, emang mau pada lari kemana coba....? huh aya aya weh....ditambah hal-hal aneh lain seperti, melawan arus, males pakai helm, parkir sembarangan, sepeda motor sungguh amat cocok jika dinobatkan sebagai provokotor indonesia abad ini....
memicu banyak kecelakaan lalu lintas serta kesemrawutan sebenernya hal sepele, karena yang paling dahsyat adalah, perilaku berkendara dari para pengendara sepeda motor jelas-jelas mensabotase perkembangan spiritual masyarakat luas, mulai dari diri si pengendara, si pengamat, si pemaki-maki alias korban, si polisi, si wartawan, si.....(al, ada telpon dari boss neh)....
layaknya provokator, sepeda motor menyebarkan racun. sepeda motor perlahan-lahan membunuh etika pengendaranya, secara halus mengusir logika, tak kentara membumi hanguskan nurani, rasa, hati dan masih banyak lagi yang kesemuanya adalah 'para penghuni' wilayah ruhani... tuhanku...manusia macam apa yang menyandang wilayah ruhani gersang kerontang minus penghuni macam hiroshima pasca Little Boy, tapi berkeliaran dan berseliweran di sekitar kita? yang jelas manusia sepeda motor seperti itu adalah zombie.... zombie yang dikecam habis oleh cranberries, band cantik dari irlandia itu loh....zombie yang membuat will smith tampil sungguh menawan di filem 'i am legend'.... zombie yang tidak sama dengan 'ghost rider' si nicholas cage karena dia justru hidup hatinya.... dan zombie dilarang jadi pacar anak saya nanti....
Kamis, 27 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar